Thursday, October 22, 2020

Sistem Bilangan Desimal, Biner, Oktal dan Heksadesimal

 

  1. Bilangan Desimal

Bilangan Desimal adalah bilangan bulat yang terdiri 10 angka, yaitu 0,1,2,3,4,5,6,7,8,9. Setelah angka 9, maka angka berikutnya adalah 10, 11, 12 dan seterusnya. Sistem bilangan desimal dikenal sebagai sistem bilangan berbasis 10, sehingga angka 10 pada sistem bilangan desimal ditulis sebagai subscript.

Contoh penulisan bilangan Desimal:

157­10­ berarti terdiri dari 1 ratusan (102), 5 puluhan (101) dan 7 satuan (100). Secara matematis ditulis:

157­10 = (1x102) + (5x101) + (7x100)

  1. Bilangan biner

Bilangan biner merupakan bilangan berbasis dua, dimana angka dari bilangan biner hanya berupa angka 0 dan 1. Bilangan biner terdiri dari 8 bit yang ditulis dengan angka 0 atau 1, mulai dari 00000000 s/d 11111111.

Contoh penulisan bilagan biner:

11110000­2            00001111­2            dan seterusnya

Bilangan biner menggunakan perpangkatan 2ˣ, mulai dari 2­­7 s/d 2­0

No. Bit Biner 8 7 6 5 4 3 2 1
Pangkat 2⁷ 2⁶ 2⁵ 2⁴ 2⁰
Desimal 128 64 32 16 8 4 2 1
  1. Bilangan Oktal

Bilangan oktal adalah bilangan berbasis 8, yang menggunakan angka 0, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7. Pada sistem bilangan oktal, angka 8 ditulis sebagai subscript.

Contoh penulisan bilangan oktal,  : 178   1298 dan seterusnya.

Konversi Sistem Bilangan Oktal berasal dari Sistem bilangan biner yang dikelompokkan tiap 3 bit biner dari ujung paling kanan. Perhatikan table berikut ini:

Desimal Biner Oktal
3 Bit Biner Nilai Oktal
0 0000 0000 000 0
1 0000 0001 001 1
2 0000 0010 010 2
3 0000 0011 011 3
4 0000 0100 100 4
5 0000 0101 101 5
6 0000 0110 110 6
7 0000 0111 111 7
  1. Bilangan Heksadesimal

Bilangan Heksadesimal adalah bilangan berbasis 16, yang menggunakan angka 0, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9 dan huruf A, B, C, D, E, F, yang melambangkan A = 10, B = 11, C = 12, D = 13, E = 14, F = 15 . Pada sistem bilangan Heksadesimal, angka 16 ditulis sebagai subscript.

Contoh penulisan bilangan Heksadesimal,  : B516                  4C16 dan seterusnya.

Bilangan Heksadesimal berasal dari Sistem bilangan biner yang dikelompokkan tiap 4 bit biner dari ujung paling kanan. Nilai desimal yang setara dengan setiap simbol tersebut diperlihatkan pada tabel berikut:

Desimal Biner Heksa
4 Bit Biner Nilai Heksa
0 0000 0000 0000 0
1 0000 0001 0001 1
2 0000 0010 0010 2
3 0000 0011 0011 3
4 0000 0100 0100 4
5 0000 0101 0101 5
6 0000 0110 0110 6
7 0000 0111 0111 7
8 0000 1000 1000 8
9 0000 1001 1001 9
10 0000 1010 1010 A
11 0000 1011 1011 B
12 0000 1100 1100 C
13 0000 1101 1101 D
14 0000 1110 1110 E
15 0000 1111 1111 F

Dengan demikian dapat disimpulkan keterangan sebagai berikut:

SISTEM RADIK/BASIS ANGKA/BILANGAN
DESIMAL 10 0,1,2,3,4,5,6,7,8,9
BINER 2 0,1
OKTAL 8 0,1,2,3,4,5,6,7
HEKSADESIMAL 16 0,1,2,3,4,5,6,7,8,9,A,B,C,D,E,F

Konsep Kerja Protokoler Server Softswitch

 

Softswitch merupakan suatu alat yang bekerja pada jaringan VoIP. Softswitch menghubungkan antara jaringan sirkuit yang ada dengan jaringan paket. Jaringan tersebut meliputi jaringan telpon tetap (PSTN), internet yang berbasis IP, kabel TV dan juga jaringan seluler (GSM).

Pengertian Softswitch

Softswitch (software switch) adalah perangkat utama dalam jaringan telekomunikasi yang menghubungkan panggilan telepon dari satu saluran telepon ke saluran telepon lain melalui jaringan telekomunikasi atau Internet publik. Seluruh sambungan tersebut menggunakan perangkat lunak yang berjalan pada sistem komputer tujuan umum. Dengan kata lain Softswitch menghubungkan antara jaringan sirkuit yang ada dengan jaringan paket. Jaringan tersebut meliputi jaringan telpon tetap (PSTN), internet yang berbasis IP, kabel TV dan juga jaringan seluler (GSM).

Perangkat perangkat dalam sofswitch yaitu :

  • Media Gateway Controller (MGC) yang sering disebut dengan perangkat call agent
  • Aplication / fitur server
  • Media server

Konsep Kerja Server Softswitch

Softswitch merupakan sebuah sistem telekomunikasi masa depan yang mampu memenuhi kebutuhan pelanggan yaitu mampu memberikan layanan triple play sekaligus dimana layanan ini hanya mungkin dilakukan oleh sistem dengan jaringan yang maju seperti teknologi yang berbasis IP.
Bagian yang paling kompleks dalam suatu sentral lokal adalah bagian software yang mengatur call processing. Salah satu solusi untuk mengatasi masalah ini adalah dengan menciptakan suatu alat yang dapat menyambungkan komunikasi suara (voice) dalam bentuk paket maupun circuit.

Arsitektur Fungsi Softswitch

Management Plan
Management Plan menangani fungsi seperti berlangganan dan ketetapan jasa/layanan, dukungan operasional, penagihan dan tugas manajemen jaringan lainnya seperti informasi billing.

Service & Application Plan
Service & Application Plan menyediakan kendali, logika dan pengeksekusi satu atau lebih jasa/layanan atau aplikasi di dalam suatu jaringan VoIP. Perangkat-perangkat di dalam control plan ini mengendalikan jalannya suatu panggilan berdasarkan layanan/jasa pengeksekusi logika melalui komunikasi dengan perangkat di dalam Call Control & Signaling Plan.

Call Control & Signaling
Plan Call Control & Signaling Plan mengontrol elemen utama pada jaringan VoIP, khususnya pada Transport Plan. Perangkat dan fungsi dalam plane ini menyelesaikan kendali panggilan berdasarkan pesan yang diterima dari Transport Plan dan menangani pembangunan dan pemutusan koneksi media antar jaringan VoIP oleh komponen pengendalian dalamTransport Plan.

Transport Plan

Transport plan bertanggungjawab untuk pengirirman pesan antar jaringan VoIP. Pesan ini dapat berupa call signalling, call dan media set up atau media. Transport plan dibagi menjadi tiga daerah : IP Transport Domain,  Interworking Domain, dan Non-IP Access Domain.

 

Arsiterktur Jaringan

Application Server 
Application Server merupakan entitas pengeksekusi aplikasi. Peran utama Application Server adalah untuk menyediakan logika layanan dan eksekusi untuk beberapa aplikasi dan layanan, contohnya seperti features, OSS, NMS.

MG (Media Gateway) 
Media gateway berfungsi sebagai elemen transport untuk merutekan trafik dalam jaringan softswitch dan juga mengirim atau menerima trafik dari jaringan lain yang berbeda, seperti PSTN,PLMN, VoIP H.323, dan jaringan akses pelanggan.

 

SG (Signalling Gateway) 
Signaling gateway sebagai gerbang antara jaringan signal SS7 dengan node-node lain pada jaringan IP yang dikontrol oleh softswitch.

Arsitektur Layer

Application Layer 
Application Layer merupakan bagian jaringan yang menyediakan dan mengeksekusi satu atau beberapa aplikasi layanan di dalam IMS.Application Layer juga mengontrol Media Server yang memberikan fungsi seperti conference, IVR, tone processing. Protokol yang diterapkan antaracontrol layerdanapplication layeradalah SIP.

Control Layer
Control Layer merupakan bagian jaringan yang berfungsi sebagai pengendali proses pembangunan dan pemutusan hubungan yang melibatkan elemen-elemen jaringan pada layer yang lain berdasarkan signaling message yang diterima dari Transport Layer.

Transport Layer
Transport Layer merupakan bagian jaringan yang berfungsi sebagai media transport bagi semuamessagedi jaringan, seperti:call signaling, call & media setupatau informasi voice atau datanya sendiri.

Protokol Pesinyalan Softswitch

Terdapat 4 kategori pada jaringan softswitch, yaitu :

  1. Protokol pengontrol panggilan atau VoIP Signalling
  2. Protokol pengontrol Media Gateway atau Media
  3. Protokol transport atau MGC Controller
  4. Protokol Signalling Gateway atau SG Controller

Protokol yang digunakan untuk signaling selalu berbasis TCP (Transfer Control Protocol) sedang untuk RTP yang digunakan adalah protocol berbasis UDP (User Datagram Protocol). Signaling dilakukan diantara port TCP yang sudah umum diketahui, pada gambar di atas digunakan H.245, H.255 dan SIP.

Protokol yang digunakan untuk pengontrol media adalah MGCP yang merupakan protokol komunikasi antara MGC dan MG dengan menggunakan master/slave ini, MG dapat mengeksekusi command yang dikirim oleh MGC. Media Gateway Control Protocol (MEGACO/ H.248) memiliki arsitektur master/slave. MGC bertindak sebagai master server yang bertanggung jawab untuk melakukan fungsi kontrol panggilan dan MG bertindak sebagai slave client yang bertanggung jawab untuk mencampur media. Komunikasi antara MGC dan MG dengan menggunakan protocol MEGACO berfungsi untuk mengatur koneksi dari media stream.

Protokol yang digunakan untuk transport adalah protokol Real-time Transport Protocol (RTP) menyediakan fungsi transportasi jaringan end-to-end yang sesuai untuk aplikasi pengiriman data real time, seperti suara atau video lewat layanan jaringan multicast atau unicast.

Protokol yang digunakan untuk signalling gateway adalah protokol SIGTRAN.  SIGTRAN adalah sebuah singkatan dari Signaling Transport (Sinyal Transportasi) yang menghasilkan sebuah spesifikasi untuk sebuah keluarga protokol yang menyediakan layanan datagram dan layer penyesuaian untuk Signaling System 7 (SS7) dan ISDN Communication Protocol.

Setelah membaca artikel ini anda dapat melanjutkan artikel tentang VoIP yang lain, berikut daftarnya
1. Pengertian VoIP
2. Konsep Kerja VoIP
3. Konsep Kerja Protokoler Server Softswitch
4. Aplikasi VoIP
5. Keamanan Yang Diterapkan Pada VoIP
6. Kekurangan dan Kelebihan VoIP

Trend MPK

TREND METODE PENELITIAN KOMUNIKASI SAAT INI

Disampaikan oleh: Herdiansyah Amanu

(Mahasiswa Pascasarjana Fakultas Komunikasi UNPAD Bandung)

STIKOM IGA Tanjungpinang, Senin, 6 Februari 2012

 

Beberapa Paradigma Ilmu Sosial

Setiap paradigma memiliki perspektif yang berbeda dalam memandang realitas. Berikut dipaparkan 3 paradima besar dalam ilmu-ilmu sosial yang dikutip oleh Salim (2006:72) dari Dedy N. Hidayat:

Tiga Paradigma Ilmu Sosial

Positivisme &

 

Post-positivisme

Konstruktivisme

 

(interpretif)

Teori Kritis
Menempatkan ilmu sosial seperti ilmu alam, yaitu metode terorganisir untuk mengkombinasikan ‘deductive logic’ melalui pengamatan empiris, agar mendapatkan konfirmasi tentang hukum kausalitas   yang dapat digunakan bagi memprediksi pola umum gejala sosial tertentu Memandang ilmu sosial sebagai analisis sistematis atas ‘socially meaningful action’ melalui pengamatan langsung terhadap aktor sosial dalam setting yang alamiah, agar dapat memahami dan menafsirkan bagaimana aktor sosial mencipta dan memelihara dunia sosial Mentakrifkan ilmu sosial sebagai proses kritis mengungkap ‘the real structure’ dibalik ilusi dan kebutuhan palsu yang ditampakkan dunia materi, guna mengembangkan kesadaran sosial untuk memperbaiki kondisi kehidupan subjek penelitian
Contoh Teori Contoh Teori Contoh Teori
Ekonomi Politik Liberal, Teori Modernisasi, Teori Pembangunan Negara Berkembang, Interaksionisme Simbolik (Iowa School), Agenda Setting, Teori Fungsi Media Konstruktivisme Ekonomi Politik (Golding & Murdock), Fenomenologi, Etnometodologi, Interaksi Simbolik (Chicago School), Konstruksionisme (Social Construction of Reality Peter L . Berger) Strukturalisme Ekonomi Politik (Schudson), Instrumentalisme Ekonomi Politik (Chomsky, Gramsci dan Adorno), Teori Tindakan Komunikasi (Jurgan Habermas)

Sumber: Diambil dari Dedy N. Hidayat (Paradigma & Metodologi, 09/12/1998) (Salim, 2006:72).

 

Istilah paradigma positivisme/post positivisme selalu dilekatkan dengan perspektif atau pendekatan objektif/positivistik, sedangkan istilah paradigma konstruktivisme dan kritis selalu dilekatkan dengan perspektif atau pendekatan subjektif/interpretif. Dalam perkembangannya, paradigma positivisme/post positivisme telah melahirkan berbagai metode penelitian khususnya di ranah penelitian kuantitatif, sedangkan paradigma konstruktivisme dan kritis telah melahirkan berbagai metode penelitian khususnya di ranah penelitian kualitatif.

Dua Mahzab Dalam Penelitian Komunikasi

Dalam melakukan penelitian di bidang komunikasi terdapat 2 metode yakni metode penelitian kuantitatif dan kualitatif. Penelitian kuantitatif terinspirasi oleh Mahzab Chicago dengan menggunakan pendekatan objektif/positivistik, sedangkan penelitian kualitatif dipopulerkan oleh Mahzab Frankfurt dengan menggunakan pendekatan subjektif/intrepretif. Berikut sekilas penjelasan tentang kedua mahzab tersebut:

Mahzab Chicago

Mahzab ini dipelopori oleh para pakar penelitian dari Amerika Serikat diantaranya Robert Ezra Park, Paul F. Lazarsfeld, Harold D. Lasswell, Bernard Berelson, Robert K. Merton, David Lerner, Wilbur Schramm, David K. Berlo, Ithiel De Sofa Pool, Charles Wright dan lain-lain. Penelitian yang dilakukan oleh mahzab ini lebih menitik beratkan pada efek komunikasi massa baik secara langsung maupun tak langsung terhadap khalayak. Disini digambarkan khalayak yang pasif saat menerima pesan-pesan media. Jadi media begitu perkasa dalam mempengaruhi atau merubah sikap dan prilaku khalayak. Mahzab ini disebut juga dengan aliran positivisme empirik yang menganggap bahwa penelitian harus bebas nilai yang diuji dalam dunia nyata, yaitu dunia yang dapat dindera (dilihat, dirasakan, diraba atau dapat dialami).

Mahzab Frankfurt

Mahzab ini dipelopori oleh para pakar penelitian dari Jerman diantaranya Th. Adorno, M. Horkheimer, W. Benjamin, M. Marcuce. Mahzab ini menghasilkan sebuah teori bernama Teori Kritis dan penelitiannya dinamakan Critical Research (Penelitian Kritis). Jika Mahzab Chicago lebih menekankan pada efek komunikasi massa, maka pada penelitian Mahzab Frankfurt lebih berfokus pada pengawasan sistem komunikasi untuk menarik kesimpulan tentang lembaga media massa yang menyebarkan pesan, bukan untuk mengetahui efek komunikasinya terhadap khlayak.

Kritik Mahzab Frankfurt Terhadap Mahzab Chicago

Kritik Mahzab Frankfurt diantaranya menyatakan bahwa penelitian komunikasi massa yang positivistik empirik oleh Mahzab Chicago yang tidak menggunakan teori sosial secara umum tidak dapat mengkaji fenomena-fenomena komunikasi massa. Dalam hal penelitian tentang efektivitas iklan misalnya, karena pihak sponsor ingin mengetahui apakah dana yang dikeluarkannya itu bermanfaat atau tidak, maka disitu tidak dipertanyakan manfaat sosial dari iklan tersebut. Bahkan penelitian Mahzab Chicago yang selalu didanai oleh pihak sponsor, hasil penelitiaannya pun harus disesuaikan dengan kehendak sponsor, sehingga disini hasil penelitiannya jelas diragukan kesahihannya karena sangat rawan dengan manipulasi data dan fakta demi memuaskan keinginan pihak sponsor. Hal ini juga menjadi sorotan kritik dari Mahzab Frankfurt.

Dua Pendekatan yang Melandasi Penelitian Komunikasi

Ada 2 Metode Penelitian komunkasi yang saat ini digunakan, yaitu Metode Penelitian Kuantitatif dan Metode Penelitian Kualitatif. Penelitian Kuantitatif dilandasi oleh pendekatan objektif, sedangkan Penelitian Kualitatif dilandasi oleh pendekatan subjektif /interpretif.

Pendekatan Objektif/Positivistik Sebagai Landasan Metode Penelitian Kuantitatif

Pendekatan objektif/positivistik diterapkan dalam penelitian yang sistematis, terkontrol, empiris dan kritis atas hipotesis mengenai hubungan yang diasumsikan di antara fenomena alam. Pendekatan ini memandang bahwa kebenaran dapat ditemukan bila kita dapat menyingkirkan campur tangan manusia ketika melakukan penelitian atau mengambil jarak dari objek yang diteliti. Jadi penelitian yang dilakukan harus bebas nilai, artinya terlepas dari interpretasi atau penilaian dari si peneliti. Metode penelitian cenderung menganggap manusia itu pasif seperti mesin atau hewan yang prilakunya bisa diramalkan sehingga bisa digeneralisasikan. Penelitian ini bersifat deduktif, artinya berfikir dari hal-hal yang bersifat umum ke khusus. Peneliti mengambil kesimpulan umum terlebih dahulu untuk melakukan generalisasi yang disebut sebagai hipotesis untuk kemudian diuji kebenarannya.

Sebagai ilustrasi, hipotesis yang menyatakan bahwa “Tayangan kekerasan di televisi menimbulkan perilaku agresif pada anak-anak,” sehingga dapat disimpulkan, “Semakin sering anak-anak menonton tayangan kekerasan di televisi, maka perilaku anak akan semakin agresif.” Disini terlihat hubungan sebab akibat dimana terdapat 2 variabel (yang tentunya ini merupakan ciri dari Metode Penelitian Kuantitatif), yaitu variabel bebas dan variabel terikat. Tayangan kekerasan di televisi sebagai variabel bebas yang mempengaruhi perilaku agresif anak sebagai variabel terikat.

Jadi disini jelas terlihat bahwa menurut pendekatan pendekatan objektif sebagai landasan dari metode penelitian kuantitatif, perilaku manusia sebagai objek penelitian dapat diramalkan sehingga dapat digeneralisasikan. Penelitian Kuantitatif ini bertujuan menguji teori.

Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian kuantitatif ini bersifat deskriptif dengan menggunakan wawancara yang berstruktur, survei korelasional, serta eksperimen yang menekankan pada pencarian penjelasan kausal dan mekanistik atas fenomena komunikasi.

Pendekatan Subjektif/Interpretif Sebagai Landasan Metode Penelitian Kualitatif

Menurut pendekatan subjektif/interpretif bahwa perilaku manusia itu sangat unik dan tidak bisa diramalkan karena manusia memiliki kehendak bebas. Berbeda dengan sesuatu (benda) yang hanya sekedar bergerak, atau mesin yang bergerak karena dikendalikan, ataupun hewan yang bertindak hanya karena insting. Jadi manusialah yang yang menciptakan struktur, bukan struktur yang menentukan perilaku manusia. Ini berarti manusia aktif bertindak dalam membetuk realitas. Manusialah yang menstruktur dunia, bukan dunia yang menstruktur manusia. Pendekatan ini memandang bahwa realitas sosial bersifat majemuk, tidak tunggal, sehingga tidak bisa digeneralisasikan. Beberapa prinsip pendekatan subjektif diantaranya:

  • Setiap manusia itu unik, tidak persis sama dengan yang lain sehingga perilaku mereka tidak bisa diuraikan secara kausal dan karenanya tidak dapat diramalkan
  • Bila terdapat tatanan kausal dalam fenomena perilaku manusia, tatanan tersebut begitu kompleks sehingga penemuan tidak tercapai secara permanen
  • Dalam ilmu alam, fakta sekarang selalu didahului oleh fakta yang lalu, namun perilaku manusia tidak hanya ditentukan oleh perilaku masa lalu tapi juga tujuan masa depan
  • Bila perilaku manusia merupakan bagian dari tatanan kausal dari peristiwa-peristiwa dan prinsipnya dapat diramalkan, akan sia-sia berusaha membuat pilihan antara kebaikan dan kejahatan, serta meminta orang untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya.

Kaum subjektivis merasa, untuk mengelola perilaku manusia sebagai materi untuk diteliti secara ilmiah terhambat oleh keterlibatan langsung peneliti dalam perilaku yang mereka ingin jelaskan,sehingga penelitian itu sendiri tidak bisa lepas dari interpretasi peneliti secara subjektif. Penelitian kualitatif tidak bertujuan menguji teori, melainkan untuk menghasilkan model atau teori baru. Jika penelitian kuantitatif ingin memprediksi seberapa besar pengaruh tayangan kekerasan di televisi terhadap prilaku agresif anak, maka penelitian kualitatif tidak bermaksud demikian. Penelitian kualitatif justru ingin menggali lebih jauh lagi mengapa bisa muncul kecenderungan prilaku agresif anak, faktor-faktor apa saja yang mungkin bisa menjadi penyebabnya. Adapun tayangan kekerasan di televisi mungkin hanya menjadi salah satu penyebab dari sekian banyak penyebab yang lain. Disini penelitian kualitatif tidak mengenal adanya variabel bebas dan terikat.

Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian kualitatif ini bersifat deskriptif dengan menggunakan wawancara yang mendalam (tidak berstruktur), pengamatan berperan serta, analisis dokumen, studi kasus, studi historis-kritis dengan penafsiran sujektif.

 

Rentang Pendekaan Objektif dan Interpretif

Meski masih banyak dipertentangkan, tapi sekedar sebagai perbandingan dapat disimak pendapat Bavelas yang mencoba menggambarkan perbedaan kedua metode ini sebagai berikut:

Penelitian Kuantitatif                            Penelitian Kualitatif

Angka-angka                                                      Tanpa angka-angka

Parametik                                                           Nonparametik

Statistik                                                                Nonstatistik

Empiris                                                                 Tidak empiris

Objektif                                                                 Subjektif

Deduktif                                                                Induktif

Pengujian hipotesis                   Penjelajahan (Exploratory)

Eksperimental                                                    Noneksperimental

Laboratorium                                                     Dunia nyata

Artifisial                                                                Alamiah

Dapat digeneralisasikan                 Tidak dapat digeneralisasikan

Sumber: Deddy Mulyana dan Solatun dalam bukuya:”Metode Penelitian Komunikasi”

Sedangkan rentang perspektif subjektif – perspektif objektif menurut Morgan dan Smircich, adalah sebagai berikut:

Sementara pemetaan Teori Komunikasi dalam rentang Perspektif Objektif dan Perspektif Subjektif/interpretif menurut Griffin:

 

 

Sumber: Em Griffin. A First Look at Communication Theory, Edisi ke-3, NY, 1997

Beberapa pakar ada yang tidak sependapat dengan pemetaan di atas Misalnya Prof. Dr. Deddy Mulyana, menilai teori interaksi simbolik masuk pada perspektif subjektif karena manusia secara aktif memaknai simbol-simbol yang mereka buat untuk berinteraksi antara satu sama lain.

METODE PENELITIAN KOMUNIKASI

Metodologi Kuantitatif

Yaitu penelitian yang menjelaskan suatu masalah yang menggambarkan hubungan antar variabel yang kemudian hasil penelitiannya dapat digeneralisasikan. Penelitian ini tidak terlalu mementingkan kedalaman data atau analisis, melainkan lebih mementingkan aspek keluasan data sehingga data atau hasil riset merupakan representasi dari seluruh populasi. Dalam melakukan analisis data, metode ini memerlukan bantuan perhitungan ilmu statistik baik statistik deskriptif maupun inferensial.

Dalam penelitian ini peneliti harus bersikap objektif dan memisahkan diri dari data, artinya peneliti tidak boleh membatasi konsep maupun alat ukur data sekehendak hatinya sendiri. Batasan konsep dan alat ukurnya harus diuji terlebih dahulu untuk memenuhi prinsip reliabilitas dan validitas. Oleh karenanya peneliti tidak boleh melibatkan analisis dan interpretasi yang bersifat subjektif.

Karena penelitian ini bersifat menguji teori, maka harus diterapkan teori-teori yang relevan yang melandasi penelitian tersebut, mulai dari tataran Grand Theory, Middle Range Theory,sampai pada Applied Theory-nya.

Jenis Penelitian Komunikasi dengan Metodologi Kuantitatif

  1. Metode Survei

Yakni metode penelitian dengan menggunakan kuesioner sebagai instrumen pengumpulan datanya dengan tujuan memperoleh informasi tentang sejumlah responden yang dianggap mewakili populasi tertentu. Survei ini terdiri dari:

a. Survei Deskriptif

Jenis survei yang digunakan untuk menggambarkan populasi yang sedang diteliti. Fokus penelitian ini adalah perilaku yang sedang terjadi dan terdiri dari satu variabel. Misalnya menggambarkan variabel sosiodemografis responden dalam riset “Bagaimana karakteristik sosiodemogafis pembaca Kompas?”, maka peneliti akan menggambarkan tingkat pendidikan responden, tingkat penghasilan, agama, jenis kelamin, tempat tinggal, usia, status perkawinan dan lain-lain

b. Survei Eksplanatif (Analitik)

Jenis survei ini digunakan untuk mengetahui mengapa situasi atau kondisi tertentu terjadi atau apa yang mempengaruhi terjadinya sesuatu. Peneliti tidak sekedar menggambarkan terjadinya fenomena tapi menjelaskan mengapa fenomena itu terjadi dan apa pengaruhnya. Dengan kata lain, peneliti ingin menjelaskan hubungan antara dua variabel atau lebih dan membuat hipotesis sebagai asumsi awal untuk menjelaskan hubungan antar variabel yang diteliti. Analisis data menggunakan uji statistik inferensial. Misalnya seorang praktisi iklan ingin mensurvei apakah frekwansi terpaan iklan mempengaruhi keinginan orang untuk membeli produk yang diiklankan.

Survei Eksplanatif ini terbagi dua yaitu:

1)      Komparatif: bermaksud untuk membuat komparasi (perbandingan) antara variabel yang satu dengan lainnya yang sejenis. Misalnya: “Apakah ada perbedaan antara tingkat kepuasan pembaca Tribun dan Batam Pos?”

2)      Asosiatif: Bermaksud untuk menjelaskan hubungan (korelasi) antar variabel. Misalnya: “Apakah ada hubungan antara terpaan media massa dengan pengetahuan politik mahasiswa?”

  1. Metode Analisis Isi (Content Analysis)

Yaitu metode penelitian yang digunakan untuk meneliti atau menganalisis isi komunikasi secara sistematik, objektif dan kuantitatif. Sistematis berarti proses analisis tersusun secara sistematis mulai dari penentuan isi komunikasi yang dianalisis, cara menganalisisnya maupun kategori yang dipakai untuk menganalisisnya. Objektif berarti peneliti harus mengesampingkan faktor-faktor yang subjektif atau personal sehingga hasil analisis benar-benar objektif dan bila diteliti peneliti lain hasilnya relatif sama. Analisis ini harus dikuantitatifkan ke dalam angka-angka, misalnya: “70% berita berita Kompas selama setahun adalah bertema politik”. Atau misalnya: “Iklan politik di harian Tribun 50% lebih banyak dibanding di harian Riau Pos”

Analisis isi kuantitatif lebih memfokuskan pada isi komunikasi yang tampak (tersurat/manifest/nyata). Sedangkan untuk menjelaskan hal-hal yang tersirat (latent), misalnya ideologi dibalik berita dilakukan analisis isi kualtatif, seperti analisis framing, analisis wacana dan semiotika yang telah banyak berkembang di dalam Ilmu Komunikasi.

  1. Metode Eksperimen

Yaitu metode yang digunakan untuk meneliti hubungan atau pengaruh sebab akibat dengan memanipulasi satu variabel atau lebih pada pada satu kelompok ekperimental atau lebih, dan membandingkan hasilnya dengan kelompok kontrol yang tidak mengalami manipulasi. Peneliti harus membagi responden dalam 2 kelompok. Kelompok yang satu dimanipulasi dengan pesan tertentu, dan kelompok dua yang tidak dimanipulasi. Kemudian peneliti melihat efek manipulasi tersebut terhadap kelompok satu dengan membandingkannya dengan kelompok dua. Contoh, judul penelitian: “Pengaruh tayangan kekerasan di TV terhadap perilaku agresif anak”. Kelompok anak yang satu disuruh menonton tayangan kekerasan di TV, sedangkan kelompok dua disuguhi acara ringan seperti komedi atau acara ringan lainnya. Kelompok satu disebut kelompok eksperimental, kelompok dua disebut kelompok kontrol. Jika kekerasan diukur dengan perilaku memukul, menendang, mencubit dan yang lainnya, bila anak-anak yang setelah menonton tayangan kekerasan di TV ketika diamati banyak yang memukul, menendang, mencubit, berarti terbukti bahwa acara kriminal tersebut telah mempengaruhi perilaku agresif pada anak-anak.

Teori atau Model Komunikasi Pendukung Metode Penelitian Kuantitatif

Ada beberapa teori atau model komunikasi yang mendukung meode penelitian kuantitatif, diantaranya:

  1. Model Komunikasi David K. Berlo

David K.Berlo menggambarkan konsep komunikasi secara sederhana yang melibatkan unsur-unsur tersebut, yang dikenal dengan sebutan model proses komunikasi “S-M-C-R” (Source, Message, Channel, Receiver). Model yang menggambarkan komunikasi berjalan secara linier dari source ke receiver ini berasumsi bahwa komunikasi meupakan suatu proses dimana sumber secara kuat merubah perilaku penerima.

  1. Model Komunikasi Lasswell

Model Lasswell atau juga dikenal dengan Formula Lasswell menerangkan komunikasi dengan menjawab pertanyaan: Who Says What In Which Channel To Whom With What Effect. Jawaban dari pertanyaan itu adalah: Source, Message, Media, Receiver and Effect (cognitive, affective, behaviour). Model ini juga menggambarkan komunikasi berjalan secara linier dari source ke receiver.

  1. Teori Jarum Suntik (Hypodemic Needle) dan Teori Peluru (Bullet Theory)

Kedua teori ini memiliki esensi yang sama, yaitu sama-sama mengangap khalayak itu bersifat paswif dalam menerima pesan komunikasi. Teori Hipodermic Needle dipelopori oleh Carl Hovland ini berasumsi bahwa komponen-komponen komunikasi (komunikator, pesan, media) amat perkasa dalam mempengaruhi komunikasi. Disebut sebagai Teori Jarum Suntik karena dalam teori ini dikesankan seakan-akan komunikasi “disuntikkan” langsung ke dalam jiwa komunikan sebagaimana obat disimpan dan disebarkan ke dalam tubuh sehingga terjadi perubahan dalam sistem fisik, begitu pula pesan-pesan persuasif merubah sistem psikologis.

Sementara Teori peluru yang dipelopori oleh Wilbur Schramm ini di tahun 1950-an berasumsi bahwa seorang komunikator dapat menembakkan peluru komunikasi yang begitu ajaib kepada khalayak yang pasif tidak berdaya. Namun di tahun 1970-an lewat karya tulisnya, Schramm mencabut teori ini karena menemukan fakta bahwa khalayak yang menjadi sasaran media itu ternyata tidak pasif.

  1. Teori Agenda Setting

Teori Agenda Setting yang diperkenalkan oleh M.E. Mc. Comb dan D.L. Shaw ini berasumsi bahwa media membentuk persepsi khalayak tentang apa yang dianggap penting. Dengan tekhnik pemilihan dan penonjolan, media memberi tekanan mana isu yang lebih penting (Becker, 1982). Jadi apa saja yang menjadi agenda media di satu sisi, adalah juga merupakan agenda khalayak di sisi lain.

  1. Teori Uses and Gratification

Teori Uses and Gratification yang dipopulerkan oleh Katz, Blumler dan Gurevitch ini, bukan mempermasalahkan bagaimana media merubah sikap dan perilaku khalayak, melainkan bagaimana khalayak bersikap dan bertindak terhadap media. Jadi khalayak dianggap aktif menggunakan media untuk memenuhi kebutuhannya, dan bila itu terpenuhi, maka mereka akan merasa puas.

  1. Model Matematika Komunikasi Claude, Shanon dan Warren Weaver

Pandangan lain tentang model linier-mekanistis yaitu model matematis yang dipopulerkan oleh Claude, Shanon dan Warren Weaver. Mereka mendefinisikan komunikasi sebagai “All the procedures by which one mind may effect another” atau seluruh prosedur dimana suatu pemikiran dapat mempengaruhi yang lain. Dengan definisi tersebut komponen komunikasi meliputi sumber (source), penyandi (encoder), pesan (message), penyandi balik (decoder), sasaran (destination) dan gangguan (noise).

  1. Teori Kultivasi

Teori Kultivasi (Cultivation Theory) merupakan salah satu teori yang mencoba menjelaskan keterkaitan antara media komunikasi (dalam hal ini televisi) dengan tindak kekerasan. Teori ini  dikemukakan oleh George Gerbner, yangberdasarkan penelitiannya terhadap perilaku penonton televisi  yang dikaitkan dengan materi berbagai program   televisi yang ada di Amerika Serikat.Teori Kultivasi pada dasarnya menyatakan bahwa para pecandu (penonton berat/heavy viewers) televisi membangun keyakinan yang berlebihan bahwa “dunia itu sangat menakutkan”. Hal tersebut disebabkan keyakinan mereka bahwa “apa yang mereka lihat di televisi” yang cenderung banyak menyajikan acara kekerasan adalah “apa yang mereka yakini terjadi juga dalam  kehidupan sehari-hari”.

  1. Teori S-O-R (Stimulus-Organisme-Response)

Teori S-O-R menjelaskan bagaimana suatu rangsangan mendapatkan respon. Teori S-O-R beranggapan bahwa organisme menghasilkan perilaku jika ada kondisi stimulus tertentu pula. Jadi efek yang timbuladalah reaksi khusus terhadap stimulus khusus, sehingga seseorang dapat mengharapkan kesesuaian antara pesan dan reaksi komunikan. Jadi unsur-unsur dalam model ini adalah: (1) Pesan (Stimuli); (2) Komunikan (Organism) (3) Efek (Response). Dalam proses perubahan sikap, sikap komunikan dapat berubah jika stimulus yang menerpanya benar-benar melebihi dari yang dialaminya. Mar’at (1984) mengutip pendapat Hovland, Janis dan Kelly yang menyatakan bahwa dalam menelaah sikap yang baru ada tiga variabel penting, yaitu: (1) Perhatian; (2) Pengertian (3) Penerimaan.

Metodologi Kualitatif

Yaitu penelitian yang bertujuan untuk menjelaskan suatu fenomena sedalam-dalamnya melalui pengumpulan data yang sedalam-dalamnya. Penelitian ini tidak mementingkan besarnya populasi atau sampel, bahkan dengan populasi atau sampel yang terbatas namun dilinai sudah cukup mendalam untuk bisa menjelaskan fenomena yang diteliti, maka tidak diperlukan lagi sampel yang lain. Yang lebih ditekankan adalah masalah kedalaman (kualitas) data dan bukan banyaknya (kuantitas) data.

Dalam penelitian ini peneliti merupakan bagian integral dari data, artinya peneliti ikut aktif dalam menentukan jenis data yang diinginkan. Jadi peneliti merupakan instrumen penelitian yang harus terjun langsung di lapangan. Tekhnik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi partisipasi dimana peneliti terlibat sepenuhnya dalam kegiatan informan kunci yang menjadi subjek penelitian dan sumber informasi. Karena itu penelitian ini bersifat subjektif yang hasilnya lebih kasuistik, tidak bisa digeneralisasikan. Bahkan dalam penelitian eksploratif misalnya, peneliti tidak memilki konsep awal tentang apa yang diteliti sehingga tentu saja tidak memiliki desain penelitian. Ini dimaksudkan agar peneliti melakukan penelitian dalam setting yang alamiah, membiarkan peristiwa yang diteliti mengalir secara normal tanpa mengontrol variabel yang diteliti.

Jadi penelitian ini tidak bermaksud menguji teori, melainkan justru berusaha menemukan sebuah model atau teori baru yang dapat berlaku secara spesifik untuk kasus-kasus tertentu. Intersubjektifitas atau pemahaman bersama dalam penelitian ini menjadi begitu penting.

Jenis Penelitian Komunikasi dengan Metodologi Kualitatif

  1. Metode Deskriptif Kualitatif

Yaitu sebuah metode penelititan dengan ciri-ciri berikut (Ardianto, 2010:60):

  1. Mencari teori (hypothesis-generating), bukan menguji teori (hypothesis-testing), heuristic, ataupun verifikasi.
  2. Menitikberatkan pada observasi dan suasana alamiah (natural setting)
  3. Peneliti terjun langsung ke lapangan, dan bertindak sebagai pengamat. Disini ia tidak berusaha untuk memanipulasi variabel. Bahkan ia terjun ke lapangan tanpa dibebani atau diarahkan oleh teori-teori tertentu.

2. Metode Wawancara Mendalam (in depth interview)

Yaitu suatu metode dalam penelitian kualitatif, dimana seorang atau sekelompok responden mengkomunikasikan bahan-bahan dan mendorong untuk didiskusikan secara bebas. Wawancara mendalam dapat dilakukan melalui telepon. Seringkali pewawancara dilatih secara psikologis agar ia dapat menggali perasaan atau sikap yang tersembunyi dari responden (Dun, 1986). Wawancara mendalam ini tidak terstruktur seperti wawancara pada penelitian kuantitatif dengan kuesionernya. Komunikasi antara peneliti dan yang diteliti berlangsung secara alamiah, bahkan subjek yang diteliti tidak menyadari bahwa ia sebenarnya sedang diteliti. Jadi saat melakukan wawancara, peneliti tidak menunjukkan jati dirinya sebagai peneliti kepada subjek yang diteliti sehingga diharapkan dapat diperoleh informasi yang orisinal.

  1. Metode Kelokmpok Diskusi Terfokus (Focus Groups Discussion)

Focus Groups Discussion (FGD) merupakan suatu tekhnik pengumpulan data yang umumnya dilakukan pada penelitian kualitatif dengan tujuan menemukan makna sebuah tema menurut pemahaman sebuah kelompok berdasakan hasil diskusi yang terpusat pada suatu permasalahan tertentu.

  1. Metode Studi Kasus

Merupakan tipe pendekatan dalam penelitian yang menelaah satu kasus secara intensif, mendalam, mendetil, dan komprehensif dengan menggunakan berbagai sumber data. Metode ini membutuhkan berbagai instrumen pengumpulan data seperti wawancara mendalam, observasi partisipan, dokumentasi, rekaman bukti-bukti fisik dan lainnya.

  1. Metode Fenomenologi

Fenomenologi memandang komunikasi sebagai pengalaman melalui diri sendiri atau diri orang lain melalui suatu dialog. Tradisi ini memandang manusia secara aktif menginterpretasikan pengalaman mereka sehingga mereka dapat memahami lingkungannya melalui pengalaman personal dan langsung dengan lingkungan. Tradisi fenomenologi memberikan penekanan sangat kuat pada persepsi dan interpretasi dari pengalaman subjektif manusia.

Menurut Polkinghorne (Creswell,1998: 51-52): “a phenomenological study describes the meaning of the lived experiences for several individuals about a concept or the phenomenon. Phenomenologist explore the structure of cosciousness in human experiences“. Studi fenomenologi menggambarkan makna pengalaman hidup bagi beberapa individu tentang suatu konsep atau fenomena. Kaum fenomenologi berusaha mengekslorasi struktur kesadaran pada penglaman manusia. Tokoh-tokohnya: Edmund Husserl, Alfred Schultz.

  1. Metode Interaksi Simbolik

Interaksi simbolik memandang makna diciptakan dan dilanggengkan melalui interaksi dengan kelompok-kelompok sosial. Interaksi sosial memberikan, melanggengkan dan merubah aneka konvensi seperti peran, norma, aturan dan makna-makna yang ada dalam suatu kelompok sosial. Tokoh-tokohnya: George Herbert Mead, Herbert Blumer.

  1. Metode Grounded Teori

Merupakan suatu pendekatan yang reflektif dan terbuka, dimana pengumpulan data, pengembangan konsep-konsep teoritis dan ulasan literatur berlangsung dalam proses siklis berkelanjutan. Tokoh-tokohnya: Daymon, Holloway.

  1. Metode Etnometodologi

Etnometodologi merupakan salah satu cabang ilmu sosiologi yang mempelajari berbagai upaya, langkah dan penerapan pengetahuan umum pada kelompok komunitas untuk menghasilkan dan mengenali subjek, realitas dan alur tindakan yang bisa dipahami bersama-sama (Kuper, dalam Basrowi dan Sukidin, 2002). Etnometodologi beranggapan bahwa aspek dari pemahaman bersama atas dunia sosial bergantung pada berbagai metode alasan yang terselubung. Metode ini bersifat prosedural yang secara sosial dimiliki bersama dan tidak pernah berhenti dipergunakan di setiap realitas yang terjadi. Metode ini merupakam suatu studi empiris tentang bagaimana orang menanggapi pengalaman dunia sosialnya masing-masing serta realitas sosial atas interaksi yang berlangsung sehari-hari. Tokoh-tokohnya: Garfinkle.

  1. Metode Etnografi

Secara harfiah etnografi berarti tulisan atau laporan hasil penelitian di lapangan seorang antropolog tentang suatu suku bangsa selama beberapa bulan atau tahun. Tujuan penelitian etnografi adalah mendeskripsikan dan membangun struktur sosial dan budaya suatu masyarakat, yaitu cara hidup masyarakat. Untuk itu peneliti harus melakukan interview secara mendalam dengan beberapa informan dan melakukan observasi sambil berpartisipasi dalam kehidupan masyarakat tersebut. Tokoh-tokohnya: Radcliffe-Brown, Malinowski.

10. Metode Dramaturgi

Metode ini berfokus pada penelitian terhadap ungkapan-ungkapan yang tersirat (tersembunyi/ tidak tampak), yakni ungkapan yang lebih bersifat teatris, kontekstual, non verbal dan tidak intensional. Dalam analisis ini, orang aakan berusaha memahami makna untuk mendapatkan kesan dari berbagai tindakan orang lain, baik dipancarkan dalam mimik wajah, isyarat dan tindakan. Menurut tokohnya, Erving Goffman, semua itu mempunya keakuratan yang lebih dibanding dengan ungkapan verbal. Dalam Dramaturgi ini dikenal ada 2 panggung individu dalam tindakannya sehari-hari, yaitu panggung depan (front stage) dan panggung belakang (back stage). Perilaku individu bisa saja berbeda di kedua panggung tersebut, dan inilah yang diteliti dalam metode dramaturgi ini.

11. Metode Sejarah

Secara umum, sejarah meliputi pengalaman masa lalu untuk mengetahui apa yang harus dikerjakan sekarang dan apa yang akan dikerjakan di masa depan. Sejarah menggambarkan secara kritis seluruh kebenaran kejadian atau fakta pada masa lampau (Fox, dalam Sevilla dkk)

Menurut Rakhmat sejarah adalah studi tentang masa lalu dengan menggunakan kerangka paparan dan penjelasan. Dengan metode historis, ilmuwan sosial mencoba menjawab masalah-masalah yang dihadapinya. Penelitian sejarah dimulai dengan perumusan masalah, penetapan tujuan penelitian, pengumpuan data, evaluasi data dan pelaporan hasil penelitian.

12. Metode Analisis Wacana

Teori wacana menjelaskan sebuah peristiwa yang terjadi seperti terbentuknya sebuah kalimat atau pernyatan (Heryanto, 2000). Karena itulah ia dinamakan analisis wacana. Dalam linguistik, wacana digunakan untuk menggambarkan sebuah struktur yang luas melebihi batasan-batasan kalimat (Sunarto, 2001).

Analisis wacana adalah seperangkat prinsip metodologis yang luas, diterapkan pada bentuk-bentuk ujaran/percakapan dan teks, baik yang terjadi secara alamiah maupun yang telah direncanakan sebelumnya. Sumber data untuk analisis wacana meliputi wawancara, percakapan, artikel, surat kabar, press release, media, siaran berita televisi, dokumen kebijakan perusahaan, bahkan percakapan informal, bincang-bincang penyiar radio (Daymon dan Holloway, 2008).

Beberapa pendekatan analisis wacana diantaranya pendekatan Teun A van Dijk, Norman Fairclough, Ruth Wodak dan lain-lain.

13. Metode Analisis Framing

Analisis framing, yang pertama kali diperkenalkan oleh Barelson, merupakan versi terbaru dari pendekatan analisis wacana, khususnya untuk menganalisis teks. (Sobur, 2001). Robert Entman merupakan salah satu ahli yang meletakkan dasar analisis framing untuk studi isi media. Konsep framing Entman digunakan untuk menggambarkan konsep proses seleksi dan menonjolkan aspek tertentu dari realitas oleh media. Framing dapat dipandang sebagai penempatan informasi dalam konteks yang khas sehingga isu tertentu mendapat alokasi lebih besar daripada isu yang lain.

Model lain dalam analisis framing diantaranya Murray Edelman, William A. Gamson, Zhongdang Pan dan Gerald M. Kosicki.

14. Metode Analisis Semiotika

Semiotika merupakan ilmu yang mempelajari tentang tanda atau simbol. Semiotika sebagai suatu model dari ilmu pengetahuan sosial memahami dunia sebagai sistem hubungan yang memiliki unit dasar yang disebut dengan tanda. Dengan demikian semiotik mempelajari hakekat tentang keberadaan suatu tanda. Umberto Eco menyebut tanda tersebut sebagai “kebohongan”, dalam tanda ada sesuatu yang tersenbunyi di baliknya, dan bukan merupakan tanda itu sendiri. Persepsi dan pandangan kita tentang realitas, dikonstruksikan oleh kata-kata dan tanda-tanda lain yang digunakan dalam konteks sosial. Jadi tanda membentuk persepsi manusia, lebih dari sekedar merefleksikan realitas yang ada (Bignel, dalam Listiorini, 1999).

Analisis semiotika berupaya menemukan makna tanda termasuk hal-hal yang tersembunyi dibalik sebuah tanda (teks, iklan, berita), karena itu sistem tanda sifatnya amat kontekstual dan bergantung pada pengguna tanda tersebut. Misalnya, kita bisa mempertanyakan, “Mengapa iklan mobil x menampilkan model wanita cantik duduk diatasnya?”; “Apa makna logo palu-arit pada bendera partai komunis?”; “Apa makna sosial dari lirik lagu Imagine milik John Lennon?” dan sebagainya yang itu semua bisa diteliti dengan metode semiotika.

Kebanyakan pemikiran tentang semiotik melibatkan ide dasar triad of meaning yang menegaskan bahwa arti muncul dari hubungan diantara tiga hal: benda (yang dituju), manusia (penafsir) dan tanda (simbol). Seperti yang dijelaskan oleh Charles Saundders, ahli semiotik modern, dimana semiosis diartikan sebagai hubungan diantara tanda, benda dan arti. Tanda tersebut mempresentasikan benda atau yang ditunjuk oleh pikiran si penafsir. Tokoh yang paling poluler dalam metode semiotika adalah Roland Barthes, yang menggunakan istilah first order signification untuk denotasi, dan second order signification untuk konotasi dalam semiotika.

15. Metode Partisipatif

Beberapa ahli memandang penelitian partisipatori sebagai masalah yang ditujukan untuk mengumpulkan pengetahuan baru dengan orang-orang (sebagai partisipan) mampu menetapkan pengetahuan tersebut.

Ada tiga karakteristik pokok dalam penelitian partisipatori. Pertama, waktu yang disediakan dalam proses penanganan masalah yang sulit harus sesuai. Kualitas hubungan antara subjek-subjek yang diteliti dan peneliti menentukan kualitas penelitian partisipatori. Kedua, metode yang digunakan harus dapat memungkinkan terselenggaranya pemikiran secara bersama-sama oleh peneliti dan anggota adat dimana penelitian tersebut dilaksanakan. Ketiga, proses penelitian harus merupakan suatu rangkaian analisis yang permanen, pernataan, pemikiran tindakan, analisis dan lainnya. Penelitian partisipatif itu mengikuti seatu rangkaian penelitian pedagogi dan tindakan, strategi yang disusun harus menunjukkan langkah-langkah yang berurutan dari fase ke fase (Ardianto, 2010:83).

16. Metode Biografis

Biografis adalah sejarah atau catatan tertulis tentang kehidupan seseorang individu. Sebagian besar pakar berpendapat bahwa biografi seyogyanya berjalan diantara narasi dan penceritaan hal-hal khusus menuju konsep-konseptualisasi, interpretasi dan penjelasan yang lebih abstrak.

Menggeluti biografi merupakm aktivitas konstruksionis yang aktif, mulai dari pemilihan tokoh hingga pencarian berbagai data, pemilihan dan tema citra atau sosok akhir yang hendak dimunculkan. Kisah-kisah dan gagasan yang diciptakan oleh seorang penulis biografi seyogyanya bermanfaat dalam memecahkan lebih lanjut aneka persoalan kehidupan profesionalnya (Denzin dan Lincoln, 2009)

17. Metode Konvergensi Simbolik

Teori Konvergensi Simbolik (Symbolic Convergence Theory), diilhami oleh Bales lalu dikembangkan oleh Ernest Bormann. Teori ini dibangun dalam kerangka paradigma naratif yang meyakini bahwa manusia merupakan homo narrans yakni makhluk yang saling bertukar cerita atau narasi untuk menggambarkan pengalaman dan realitas sosialnya (Bormann, 1985).

Konvergensi simbolik akan menghasilkan tema-tema fantasi drama-drama besar yang panjang dan rumit dari sebuah cerita yang dipaparkan visi retorik(Bormann dalam Putnam and Pacanowsky, 1983:110). Itulah teori konvergensi simbolik dikatakan identik dengan studi tema-tema fantasi.

Teori konvergensi simbolik menegaskan bahwa solidaritas dan kohesivitas kelompok dapat dicapai melalui kecakapan bersama dalam membaca dan menafsirkan tanda-tanda, kode-kode dan teks-teks budaya. Hal ini membawa kepada terbentuknya realitas bersama (shared reality). Sebagai teori yang berparadigma narratif maka penelitian yang menerapkanteori ini lebih mementingkan pengumpulan data interpretif ketimbang data kuantitatif sebagaimana dikembangkan dalam teori berparadigma rasional (Bormann, 1986).

Menurut teori ini, cerita atau tema-tema fantasi diciptakan melalui interaksi simbolik dalam kelompok kecil dan kemudian dihubungkan dari satu orang ke orang lain dan dari satu kelompok ke kelompok lain untuk menciptakan sebuah pandangan dunia yang terbagi (Littlejohn, 2008:165). Contoh penelitian penelitian yang menggunakan metode ini misalnya dengan judul:

“Konvergensi simbolik pada jamaah tabligh Bandung” (Studi tema-tema fantasi dalam dakwah-dakwah di lingkungan jamaah tabligh Bandung).

 

 DAFTAR PUSTAKA

Ardianto, Elvinaro. 2010. Metode Penelitian untuk Public Relation. Bandung: Simbiosa Rekatama Media.

Effendy, Onong Uchayana. 2003. Ilmu, Teori dan Filsafat Komunikasi. Bandung: Citra Aditya Bakti.

Eriyanto. 2004. Analisis Framing, Konstruksi, Ideologi dan Politik Media. Yogyakarta: LKiS.

Kriyantono, Rachmat. 2010. Tekhnik Praktis Riset Komunikasi. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

Littlejohn Stephen W. and Foss. 1996. Theories of Human Communication. Belmont, Californa: Wadsworth.

Mulyana, Deddy dan Solatun. 2008. Metode Penelitian Komunikasi. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Mulyana, Deddy. 2010. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Rakhmat, Jalaluddin. 2009. Metode Penelitian Kuantitatif. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Sobur, Alex. 2002. Analisis Teks Media. Bandung PT. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Karakteristik Dasar Komunikasi Data

1. Pengiriman

Sistem harus mengirimkan data ke tujuan yang sesuai. Data harus diterima oleh perangkat yang dimaksudkan atau pengguna dan hanya oleh perangkat atau pengguna

2. Akurasi

Sistem harus memberikan data yang akurat. Data yang telah diubah dalam transmisi dan meninggalkan sumber,data  yang tidak dikoreksi tidak dapat digunakan.

3. Ketepatan waktu

Sistem harus mengirimkan data pada waktu yang tepat. Terlambat nya dikirimkannya data maka tidak akan berguna. Dalam kasus video dan audio, pengiriman waktu yang tepat berarti memberikan data seperti yang diproduksi atau seperti aslinya, dalam urutan yang sama ketika dibuat, dan tanpa penundaan yang signifikan. Semacam ini disebut pengiriman transmisi real-time.

4. Jitter

Jitter mengacu pada variasi waktu kedatangan paket. Ini adalah keterlambatan yang tidak merata dalam pengiriman paket audio atau video. Sebagai contoh, mari kita asumsikan bahwa paket video yang dikirim setiap 3D ms. Jika beberapa dari paket datang dengan delay 3D ms dan yang lain dengan delay 4D ms, akan menghasilkan kualitas yang tidak merata dalam video tersebut.

Komunikasi Audio, Video dan Audio-Video

Komunikasi Audio

Pengertian Komunikasi Audio

Komunikasi Audio adalah Komunikasi yang terjadi antar sistem dalam bentuk suara, yang ditransmisikan kedalam bentuk jaringan.

Macam - Macam Komunikasi Audio

  1. Audio Streaming adalah Jenis audio yang langsung diputar di Internet. Contoh web atau aplikasi yang menyediakan audio streaming adalah Jango, iHeart, Spotify, Joox, dan lainnya.
  2. Audio Visual adalah perangkat sound system yang dilengkapi dengan penampilan gambar, biasanya digunakan untuk presentasi, home theater dan lain sebagainya.
  3. Audio Response adalah Suara yang dihasilkan oleh sistem baik itu komputer maupun perangkat lainnya, hal ini terjadi karena output suara yang dihasilkan itu berasal dari input tertentu.
  4. Audio Oscillator adalah produk dari perusahaan Hewlett Packard, produk ini digunakan oleh Walt Disney Studios dalam pembuatan Film
  5. Audio Modem Riser adalah Kartu plug-in dalam motherboard Intel yang memuat sirkuit modem atau audio,

Perangkat - Perangkat Komunikasi Audio

  1. Audio CODEC : melakukan fungsi kompresi sinyal audio untuk penghematan bandwidth
  2. Audio Controller : melakukan fungsi kontrol terhadap pengaruh akustik yang tidak dikehendaki dari speaker terhadap mikropon
  3. Mikropon & Speaker : merupakan perangkat input/output dalam sistem audio

Jenis - Jenis format Audio

  1. MP3 atau MPEG 1/2 Audio Layer 3
    Mp3 adalah format audio yang paling populer pada saat ini. Format ini menggunakan algoritma audio lossy compression yang dapat mengurangi ukuran file. Mp3 dikembangkan di Jerman fraunhofer Institute dan berbasis format MPEG.
    2. AIFF dan AIFC (Audio Interchange File Format)
    AIFF adalah format file yang tidak dikompres yang dikembangkan oleh Apple pada Machintosh dan Platform Unix
    3. Ogg dan Ogg Vorbis
    Ogg adalah format multimedia gratis yang dirancang untuk streaming dan penyimpanan yang sangat efisien. Ogg dikembangkan oleh Xiph.org Foundation. Begitu juga Ogg Vorbis yang berupakan codec audio gratis
    4. WAV
    WAV adalah standart audio yang dikembangkan oleh microsoft dan IBM. WAV adalah format utama untuk menyimpan data audio pada windows dan menggunakan metode yang sama dengan AIFF untuk menyimpan data. WAV menggunakan teknik pulse-code modulation(PCM)yang tidak dikompres.
    5. AAC atau Advance Audio Codec
    AAC adalah sistem lossy compression untuk file audio yang dikembangkan oleh Motion Picture Expert Group untuk menggantikan MP3 yang mempunyai kelebihan yaitu kompresi lebih effisien dan kualitas suara audio yang lebih baik dan mendukung audiomultichannel.
    6. WMA (Windows Media Audio)
    WMA adalah codec untuk lossy compression yang dikembangkan oleh microsoft untuk menyaingi mp3. Akan tetapi sementara ini Microsoft memposisikan WMA bersaing dengan AAC. WMA juga menggunakan sistem Digital Rights Management seperti AAC untuk proteksi penggandaan dan membatasi pemutaran pada PC atau perangakat tertentu
    7. Real Audio
    real Audio adalah codec audio yang dikembangkan oleh Real Networks pada tahun 1995. Codec ini awalnya hanya digunakan untuk transmisi bandwitch yang rendah. Real Audio banyak digunakan oleh station radio untuk streaming program-program via internet secara realtime.Contoh Komunikasi Audio
    Terdapat berbagai produk dengan cara kerja komunikasi audio, contohnya seperti Telepon, Radio, dan Tape Recorder
  • Telepon adalah Sebuah alat yang dimana harus terdapat 2 perangkat agar komunikasi dapat berjalan, telepon menggunakan sinyal, gelombang radio yang diubah ke data audio.
  • Radio Jika telepon membutuhkan 2 perangkat agar terhubung, maka radio cukup satu, karena radio hanya bisa bertindak sebagai client (penerima data) dan tidak bisa menjadi server (pengirim data), untuk server sendiri membutuhkan alat khusus yang membuat frekuensi audio agar bisa memancarkan sinyal radio dan dapat diterima oleh radio.

Komunikasi Video

  1. Pengertian Komunikasi Video
    Komunikasi Video adalah Suatu penyampaian informasi secara tampak atau visual, singkatnya hal yang dapat dilihat mata manusia, Seperti video yang ditampilkan secara sinkron juga bersamaaan melalui media jaringan lokal maupun internet.2. Macam - Macam Komunikasi Video
    1. Video IP
    Video IP adalah sebuah video yang dilewatkan melalui IP. Video ini dapat dipancarkan ke publik baik melewati satelit, melalui kabel, dan melalui IP atau format radio analog.2. Videotex
    Videotex adalah pelayanan informasi interaktif dari komputer pusat yang memungkinkan individu untuk meminta kerangka informasi dari komputer pusat melalui telepon atau kabel, untuk ditampilkan ada layar tampilan video (umumya televisi rumah).

 

  1. VideoOut
    VideoOut adalah Perangkat keras seperti kamera yang layar kameranya dapat ditampilkan di layar lainnya dengan cara disambungkan ke layar televisi atau layar lainnya. Jadi intinya seperti video dikamera keluar ke layar lainnya, maka dari itu dinamakan VideoOut.4. Video RAM
    Video RAM atau VRAM adalah penyimpanan komputer media gambar yang ditampilkan di monitor, yang bertindak sebagai buffer antara CPU dan kartu grafis5. Video Text
    Yaitu suatu kemampuan untuk mengirimkan juga mentransmisikan secara 2 arah dari suatu gambar atau suara

     

    3. Manfaat Komunikasi Video

  1. Dapat memberitahukan informasi tanpa harus bertemu langsung dengan penerima informasi
  2. Menghemat biaya, karena kita tidak perlu bertemu dengan begitu, kita akan menghemat biaya transportasi.
  3. Lebih praktis, karena dengan komunikasi video, kita dapat memberitahu informasi ke beberapa orang sekaligus tanpa harus menemuinya satu per satu

Komunikasi Audio Video

  1. Pengertian Komunikasi Audio Video
    Komunikasi Audio Video atau biasa yang disebut Komunikasi Audio Visualadalah Proses atau hal yang disampaikan berupa informasi kepada orang lain yang berupa gambaran/visualisasi sekaligus pendengaran/audio, Jika begitu maka Komunikasi ini mengandalkan Penglihatan juga Pendengaran.2. Contoh Komunikasi Audio Video

Karena menggunakan 2 media sebagai komunikasi yakni Audio dan Video, maka Contohnya semakain meluas juga karena perkembangan zaman, dimana setiap ada video pasti ada audio juga. Contohnya yaitu :

1. Film
Film adalah sekumpulan gambar yang sudah diedit atau bisa disebut frame, lalu semua frame itu digabung sehingga membuat gambar bergerak menjadi lebih hidup dan nyata.

2. Video
Hal ini sama dengan film yaitu menggabungkan gambar gambar berbeda agar bisa bergerak, namun yang membedakannya adalah kualitas juga durasi, pesan yang disajikan divideo adalah bisa berupa fakta, berbeda dengan film, rata - rata menggunakan cerita fiksi sebagai jalan cerita agar lebih menarik.

3. Televisi
Televisi adalah alat penerima sinyal gambar sekaligus suara, dengan mengubah sinyal radio menjadi gambar berupa video atau suara, yang mengirimnya adalah stasiun televisi atau yang bisa disebut channel, dan untuk channel bisa berupa gratis atau berbayar.

3. Ciri-Ciri Komunikasi Audio Video

  1. Bersifat linier
  2. Menyajikan visual yang dinamis
  3. Digunakan dengan cara yang telah ditetapkan sebelumnya oleh perancang/pembuatnya

Merupakan representasi fisik dari gagasan real atau gagasan abstrak

Pemasaran Dengan Perangkat Mobile

1.  Pengertian Dasar Pemasaran Melalui Perangkat Mobile
Mobile Marketing adalah pemasaran yang memungkinkan organisasi atau pebisnis untuk berkomunikasi dan terlibat dengan konsumen mereka secara interaktif dan relevan melalui perangkat mobil atau jaringan nirkabelSejarah Mobile Marketing

 Multimedia Message Service

  1. Game Mobile Marketing
  2. Mobile Web Marketing
  3. Pemasaran via Bluetooth dan Infrared
  4. Mobile Marketing melalui kode Quick Response
2. Karakteristik Perangkat Mobile VS Sistem Desktop
  • Ukuran yang kecil
  • Memory yang terbatas
  • Daya proses yang terbatas tidaklah setangguh rekan mereka yaitu Desktop
  • Mengkonsumsi daya yang rendah
  • Kuat dan dapat di andalkan
  • Konektivitas yang terbatas
  • Masa hidup yang pendek
3. Membuat Website Menggunakan Template Pada Perangkat Mobile
Mobile web adalah aplikasi akses internet atau akses internet menggunakan peralatan yang bersifat mobile berbasiskan browser yang bertujuan untuk mengakses layanan data secara wireless dengan menggunakan perangkat mobile seperti handphone, PDA dan perangkat portable yang tersambung ke sebuah jaringan telekomunikasi seluler.
 
Yang perlu di ingat bahwa mobile website haruslah di rancang user friendly dan memberikan "kepuasan instan" diantaranya :
  • Cepat diakses
  • Sederhanakan navigasi
  • Buat website mobile anda "thumb friendly"
  • Buat website mobile anda mudah dibaca
  • Website mobile anda harus kompatible
  • Buat "local friendly"
  • Buat website anda mudah untuk menkonversi
Wordpress merupakan salah satu aplikasi yang dapat digunakan untuk membuat website atau blog.
 
4. Strategi Pemasaran pada Perangkat Mobile
  • SMS
  • Aplikasi Mobile
  • Mobile Usage In Store
5. Strategi Pemasaran pada Mobile Marketing
  • Content Marketing
  • User Friendly
  • Continuos Marketing
  • Integrated Digital Marketing
  • Visual Marketing
  • Personalised Marketing

Gerbang Logika

1.  PENGERTIAN GERBANG LOGIKA (LOGIC GATES)

Gerbang Logika (Logic Gates) adalah sebuah entitas untuk melakukan pengolahan input-input yang berupa bilangan biner (hanya terdapat 2 kode bilangan biner yaitu, angka 1 dan 0) dengan menggunakan Teori Matematika Boolean sehingga dihasilkan sebuah sinyal output yang dapat digunakan untuk proses berikutnya.

2. JENIS-JENIS GERBANG LOGIKA (LOGIC GATES)

Ada 7 jenis gerbang logika :

  1. Gerbang AND : Apabila semua / salah satu input merupakan bilangan biner (berlogika) 0, maka output akan menjadi 0. Sedangkan jika semua input adalah bilangan biner (berlogika) 1, maka output akan berlogika 1.
  2. Gerbang OR  : Apabila semua / salah satu input merupakan bilangan biner (berlogika) 1, maka output akan menjadi 1. Sedangkan jika semua input adalah bilangan biner (berlogika) 0, maka output akan berlogika 0.
  3. Gerbang NOT : Fungsi Gerbang NOT adalah sebagai Inverter (pembalik). Nilai output akan berlawanan dengan inputnya.
  4. Gerbang NAND : Apabila semua / salah satu input bilangan biner (berlogika) 0, maka outputnya akan berlogika 1. Sedangkan jika semua input adalah bilangan biner (berlogika) 1, maka output akan berlogika 0.
  5. Gerbang NOR : Apabila semua / salah satu input bilangan biner (berlogika) 1, maka outputnya akan berlogika 0. Sedangkan jika semua input adalah bilangan biner (berlogika) 0, maka output akan berlogika 1.
  6. Gerbang XOR : Apabila input berbeda (contoh : input A=1, input B=0) maka output akan berlogika 1. Sedangakan jika input adalah sama, maka output akan berlogika 0.

Gerbang XNOR : Apabila input berbeda (contoh : input A=1, input B=0) maka output akan berlogika 0. Sedangakan jika input adalah sama, maka output akan berlogika 1.