Sunday, October 18, 2020

Filsafat Ilmu Komunikasi (Bab 5)

 BAB 5

KOMUNIKASI SEBAGAI ILMU

    Komunikasi sebagai bentuk keterampilan dapat menjadi suatu ilmu karena memenuhi persyaratan tertentu yang disebut bersifat ilmiah. Salah satu sifat ilmiah adalah memiliki metode, yang berarti penelitian tersebut berlangsung menurut suatu rencana tertentu. Secara umum tujuan suatu pengetahuan ilmiah adalah untuk deskriptif, eksplanatif, dan prediktif.
- Deskriptif berarti suatu ilmu akan menjelaskan gejala-gejala yang menjadi objek formalnya.
- Eksplanatif berarti seluruh gejala yang teramati itu dapat dihubungkan satu sama lain secara kausal (sebab akibat),
- dan selanjutnya dapat dilakukan prediksi atas gejala-gejala yang akan timbul (prediktif).

Mengingat ilmu alam lahir lebih dahulu daripada ilmu sosial (termasuk ilmu komunikasi), sifat ilmiah sebagai persyaratan ilmu banyak dipengaruhi paradigma ilmu-ilmu alam, sebagaimana dikemukakan Poedjawijatma (1983), Hatta (1987), Suriasumantri (2001), dalam Vardiansyah (2005: 8). Persyaratan suatu keterampilan menjadi ilmu itu ialah objektif, metodis, sistematis dan universal:


1. Objektif: ilmu harus memiliki objek kajian yang terdiri dari satu golongan masalah yang sama sifat hakikatnya, tampak dari luar maupun dan dalam. Objek dapat bersifat ada, atau mungkin ada karena masih harus diuji keberadaannya. Dalarn mengkaji objek, yang dicari adalah kebenaran, yakni persesuaian tahu dengan objek, dan karenanya disebut kebenaran objektif, bukan subjektif berdasarkan subjek peneliti.
2. Metodis, dalam upaya rnencapai kebenaran, selalu terdapat kemungkinan penyimpangan, yang harus diminimalisasi. Konsekuensinya, harus terdapat cara tertentu untuk menjamin kepastian kebenaran. Cara ini disebut metodos dari bahasa Yunani (hodos yang berarti: cara / jalan). Dalam bahasa umum: metodis, yakni metode tertentu yang disebut metode ilmiah. Maka pengetahuan yang didapat secara metodis merupakan syarat ilmu yang kedua.
3. Sistematis, karena mencoba mengetahui dan menjelaskan suatu objek, ilmu harus terurai dan terumuskan dalam hubungan yang teratur dan logis sehingga membentuk suatu sistem (dari bahasa Yunani, sustema) yang berarti: utuh, menyeluruh, terpadu, menjelaskan rangkaian sebab akibat menyangkut  objeknya. Maka pengetahuan yang tersusun secara sistematis dalam rangkaian sebab akibat rnerupakan syarat ilmu yang ketiga.
4. Universal, kebenaran yang hendak dicapai bukan yang tertentu, melainkan bersifat  umum. Contoh: semua segitiga bersudut 180 derajat. Dengan kata lain, pengetahuan tentang yang khusus, yang tertentu saja, tidak diinginkan. Ilmu alam tidak puas jika tahu logam tertentu mengembang jika dipanasi. Ia berusaha mengetahui bagaimana seluruh jenis logam bahkan juga benda-benda lain umumnya—jika dipanasi. Kiiteria pada ilmu alam inilah yang diadopsi oleh ilmu sosial, membuat pengetahuan yang bersifat urnumlah yang dicari.

Belakangan ilmu sosial menyadari kadar universalitas yang dikandungnya berbeda dengan ilmu-ilmu alam, mengingat objeknya adalah tindakan manusia. Karena untuk mencapai tingkat universalitas dalam ilmu-ilmu sosial harus  tersedia konteks dan kondisi yang tertentu pula. Masalahnya, sulit mencapai konteks yang betul-betul sama  persis, tidak ada tingkah laku manusia yang bisa diulangi  dan terulangi sama persis dari waktu ke waktu.

Sekarang marilah kita tinjau bagaimana komunikasi yang semula hanya sebuah keterarnpilan kemudian menjelma sebagai ilmu. Perubahan bentuk dari keterampilan menjadi ilmu harus memenuhi syarat-syarat sebagai ilmu, yaitu: objektif, metodis, sistematis, dan universal.

1.    Objektif. Sebagai sebuah ilmu, apakah komunikasi memiliki objek tertentu? Ada dua objek material komunikasi, yaitu masyarakat (objek material pertama) dan media (objek material kedua) (Abrar, 2003: v). Menurut Abrar, seperti ilmu-ilmu lainnya, ilmu komunikasi memiliki objek material yaitu masyarakat. Dalam perkembangannya, ilmu komunikasi mengenal objek material yang lain yaitu media. Setelah menjadikan media sebagai objek material kedua. maka ilmu komunikasi memiliki objek kajian yang kongkret dibanding objek kajian ilmu sosial yang lebih tua. Sementara menurut Hamijoyo (2005) objek material komunikasi ialah perilaku manusia, yang dapat merangkum perilaku individu, kelompok dan masyarakat. Selain objek material, ilmu komunikasi pun memiliki objek formal, yaitu situasi komunikasi yang mengarah pada perubahan sosial termasuk perubahan pikiran, perasaan, sikap dan perilaku individu, kelompok, masyarakat dan pengaturan kelembagaan.

2.       Metodis. Sebagai sebuah ilmu, apakah komunikasi mempunyai metode tertentu? Ada sejurnlah metode penelitian yang dimiliki komunikasi. Secara ilmu ini menggunakan metode penelitian ilmu sosial. Ini dapat dipahami karena pada awalnya ilmu komunikasi merupakan bagian dari paradigma ilmu sosial.

3.       Sisternatis: Dari objek ilmu ini kemudian ditarik garis yang teratur berupa penataan, sehingga ia benar-benar merupakan suatu unit yang utuh, yang kemudian dapat diperinci secara sistematis. Pengertiannya jelas, perbedaannya dengan ilmu-ilmu lainnya pun harus jelas. Begitu pula strukturnya, hierarkinya, urutan-urutannya harus sedemikian rupa, sehingga makin ke bawah pengertiannya makin khusus. Kini pengertian-pengertian dalam bidang Ilmu Komunikasi pada prinsipnya sudah mencapai kesepakatan.

4.       Universal. Telah ada kesepakatan bahwa ilmu ini mempelajari pernyataan antarmanusia, kendati nama-nama yang berbeda masih mewamai ilmu ini, seperti istilah Publiciteitsleer (W. N. Van der Hout), Pers-etenschap (Kurt Baschwitz), Zeitungswissenschaf (Karl d'Ester), Communication, Journalism, Mass Cornmunication, communicolog di Amenica serikat.

Ciri ilmu dalam perspektif ilmu sosial di atas (objektif, metodis, sistematis, dan universal) kemudian diperbaharui. Perkembangan rnetode ilmu yang rnulai membedakan antara ilmu alam (erklaren) dan ilmu sosial (verstehen) pada akhimya merumuskan ciri ilmu sosial yang lebih khas, maksudnya tidak sama persis dengan ciri ilmu-ilmu alam. Ciri suatu ilmu sosial adalah adanya rasionalitas, dapat digeneralisasi, dan dapat disistematisasi.

Jadi kesimpulannya suatu ilmu haruslah dapat diuji. Setiap konsep atau prinsip ilmiah apa pun dapat saja ditolak setelah dibuktikan kembali bahwa ia salah atau bahkan dipandang menipu. Ihwal cara pengujiannya tidaklah seragam bergantung pada perspektifnya: positivisme, menggunakan uji empiris verifikasi, dan atau falsifikasi, konstruktivisme, menggunakan uji valibilitas, dan seterusnya.

Lebih lengkap lagi Alfred Schutz mengajukan ciri ilmu sosial. Ia mernberikan tiga postulat ihwal ilmu.

Pertama, konsistensi logis. Konsistensi logis berarti suatu ilmu haruslah rasional, dapat digeneralisasi, dapat disistematisasi.

Kedua, adanya interpretasi subjektif.

Ketiga, kecukupan (adequacy), menuntut ilmu untuk tetap konsisten dengan "pengalaman awam terhadap realitas sosial". Jadi penjelasan ilmiah tentang tindakan manusia haruslah dapat dimengerti oleh orang yang bukan ilmuwan; dengan cara ini hasil kerja ilmiah menjadi serasi dengan interpretasi orang awam.

Perubahan ciri ilmu ini tak bisa dihindari dan bukan berarti menghapuskan ciri ilmu yang sebelumnya. Semua ciri ilmu dapat digunakan bergantung pada perspektifnya; dengan kata lain semua ciri ilmu itu dapat dikenakan sernuanya (walaupun tidak secara bersamaan) terhadap ilmu komunikasi. Apa sebab? Sekali lagi, ditegaskan, karena ilmu komunikasi adalah ilrnu yang serba-serbi

(Disarikan dari Buku Filsafat Ilmu Komunikasi, Elvinaro Ardianto & Bambang Q. Anees, 2009:22-25)

QUIZ :

Jelaskan kegunaan komunikasi sebagai ilmu bagi kehidupan manusia! Berikan contohnya!

(Tuliskan jawaban anda di kolom comment dengan menyebutkan nama & NIM. Silakan gunakan akun gmail atau fb anda untuk comment)

 

Saturday, October 17, 2020

Psikologi komunikasi (BAB 5)

BAB 5
KONSEP DIRI

Setiap manusia pasti pernah mengalami proses berpikir dalam dirinya sendiri. Berpikir mengenai dirinya sendiri adalah aktivitas manusia yang tidak dapat dihindari. Pada umumnya, secara harfiah orang akan berpusat pada dirinya sendiri. Sehingga self (diri) adalah pusat dari dunia sosial setiap orang.   

William D.Brooks mendefinisikan konsep diri sebagai “Those psychical, social, and psychological perceptions of our selves that we have derived from experiences and our interaction with other” atau persepsi psikis, sosial, dan psikologis tentang diri kita yang kita peroleh dari pengalaman dan interaksi kita dengan orang lain. Jadi konsep diri merupakan pandangan dan perasaan tentang diri, yang dapat bersifat psikologi, sosial dan fisik. 

Sementara menurut Hurlock (dalam Nia, 2011 :  ) konsep diri adalah konsep seseorang dari siapa dan apa dia itu. Konsep ini merupakan bayangan cermin, ditentukan sebagian besar oleh peran dan hubungan dengan orang lain, dan apa yang kiranya reaksi orang lain terhadapnya. Konsep diri mencakup citra diri fisik dan psikologis. Citra diri fisik biasanya berkaitan dengan penampilan, sedangkan citra diri psikologis berdasarkan atas pikiran, perasaan, dan emosi.

Pendapat lain, Stuart dan Sundeen (1991: 372) beragumen bahwa konsep diri adalah semua ide-ide, pikiran, kepercayaan, dan pendirian yang diketahui individu tentang dirinya dan mempengaruhi individu dalam berhubungan dengan orang lain. 

Kemudian Agustiani (2009) menyatakan konsep diri merupakan merupakan gambaran yang dimiliki seseorang tentang dirinya, yang dibentuk melalui pengalaman pengalaman yang diperoleh dari interaksi dengan lingkungan. Konsep ini bukan merupakan faktor bawaan, melainkan berkembang dari pengalaman yang terus menerus.

Jadi konsep diri adalah kesadaran batin yang tetap, mengenai pengalaman yang berhubungan dengan aku dan membedakan aku dari yang bukan aku. konsep diri merupakan pandangan kita mengenai siapa diri kita, dan itu hanya bisa kita peroleh lewat informasi yang diberikan orang lain kepada kita, melalui komunikasi dengan orang lain kita belajar bukan saja mengenai siapa kita, namun juga bagaimana kita merasakan siapa kita. Kita mencintai diri kita bila kita telah dicintai orang lain dan kita percaya diri kita telah dipercaya orang lain (Dedy, 2001)  

Dalam Teori Konsep Diri, Carl Rogers membedakan Konsep Diri menjadi Konsep Diri Positif dan Negatif. 

Konsep Diri Positif

Individu yang memiliki konsep diri positif artinya ia memandang dirinya secara positif. Ia merasa bahwa dirinya berharga, disukai dan diterima. Ia akan menjadi lebih percaya diri dan ini akan membantunya untuk dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan diluar dirinya. Inti dari konsep diri yang positif ini adalah bahwa ia menerima keberadaan dirinya. Dan penerimaan ini lebih mungkin mengarah pada kerendahan hati dan kedermawanan diri pada keangkuhan dan keegoisan. Orang dengan konsep diri yang positif dapat memahami dan menerima sejumlah fakta yang bermacam-macam tentang dirinya sendiri.
Ada beberapa karakteristik yang menunjukkan seseorang yang memiliki konsep diri yang positif, yaitu:
1. Mampu menjadi dirinya sendiri.
2. Mampu memenuhi harapan-harapannya sendiri dari pada harapan individu lain.
3. Memiliki penerimaan yang lebih besar terhadap orang lain.
4. Memiliki penerimaan yang lebih besar terhadap diri sendiri.
5. Mampu mengarahkan kehidupannya.
6. Lebih terbuka untuk menerima pengalaman-pengalamannya 

Konsep Diri Negatif

Individu yang memiliki konsep diri negatif artinya ia memandang dirinya secara rendah, ditolak, dan ia sendiri juga menjadi kurang bisa menerima dirinya. Dalam hubungannya dengan lingkungan sosial di luar diri, individu dengan konsep diri yang negatif akan lebih tergantung dan mempengaruhi oleh lingkungan di luar dirinya. Konsistensi tingkah lakunya juga akan menjadi lebih rendah dan sangat bergantung kepada harapan diluar lingkungan di luar dirinya.
Individu merasa bahwa kekuatan yang lebih besar adalah diluar dirinya. Jika ketergantungan pada penguatan dari luar diri menjadi lebih besar, maka ia akan menggantungkan evaluasi dirinya kepada orang lain. Hal ini pada akhirnya akan menimbulkan kebutuhan akan pengakuan terhadap keadekuatan diri menjadi semakin besar, karena diri sendiri tidak mampu memberikannya.
Ada beberapa karakteristik yang menunjukkan seseorang yang memiliki konsep diri yang negative, yaitu:

1. Menjadi sangat sensitive terhadap kritik, karena kritik menjadi penguat bagi perasaan inferiornya .
2. Sikap terlalu mengkritik orang lain sebagai usaha untuk menutupi gambaran diri yang sebenarnya karena dengan demikian berusaha mengarahkan perhatian pada orang lain dan bukan pada dirinya.
3. Kegagalan yang dialaminya akan diproyeksikan pada orang lain sehingga kekurangan diri dapat dihindari.
4. Terlalu berlebihan terhadap pujian yang diberikan kepadanya.
5. Kurang memiliki minat dalam berkompetisi, dan cenderung menjaga jarak dalam lingkungan sosialnya.

Aspek Aspek Konsep Diri
Menurut Agoes
Dariyo (2007), konsep diri bersifat multi aspek yaitu meliputi :
 

1
.Aspek Fisiologis

 Aspek fisiologis dalam diri berkaitan dengan unsure unsur, seperti warna kulit, bentuk, berat atau tinggi badan, raut muka, memiliki kondisi badan yang sehat, normal/ cacat dan lain sebagainya. Karakteristik mempengaruhi bagaimana seseorang menilai diri sendiri, demikian pula tak dipungkiri orang lain pun menilai seseorang diawali dengan penilaian terhadap hal hal yang bersifat fisiologis.

2
.Aspek Psikologis 

Aspek-aspek psikologis meliputi tiga hal yaitu : 
a
.Kognitif ( kecerdasan, minat, dan bakat, kreativitas, kemampuan konsentrasi). Kecerdasan adalah kemampuan untuk berfikir secara abstrak (Terman). Kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya( Colvin). Ada pula yang mendefinisikan
intelegensi sebagai” intelek plus penetahuan (Henmon). Teknik utuk memproses informasi yang disediakan oleh indra (Hunt). Tujuan aspek kognitif berorientasi pada kemampuan berfikir yang mencakup kemampuan intelektual yang lebih sederhana, yaitu mengingat, sampai pada kemampuan memecahkan masalah yang menuntut siswa untuk menghubungakan dan menggabungkan beberapa ide, gagasan, metode atau prosedur yang dipelajari untuk memecahkan masalah tersebut.
b.Afeksi (ketahanan, ketekunan, keuletan kerja, motivasi berprestasi, toleransi stress). Ranah afektif adalah ranah yang berkaitan dengan sikap dan nilai. Ranah afektif mencakup watak perilaku seperti perasaan, minat, sikap, emosi, dan nilai. Beberapa pakar mengatakan bahwa sikap seseorang dapat diramalkan perubahannya bila seseorang telah memiliki kekuasaan kognitif tingkat tinggi. Ciri-ciri hasil belajar afektif akan tampak pada peserta didik dalam berbagai tingkah laku.
c. Konasi( kecepatan dan ketelitian kerja, coping stress, resilliensi). Dalam istilah sehari-hari konasi disebut juga dengankehendak atau hasrat. Kehendak ialah suatu fungsi jiwa untuk dapat mencapai sesuatu. Kehendak ini merupakan kekuatan dari dalam,dantampak dari luar sebagai gerak-gerik. Dan hasrat ialah suatu keinginan tertentu yang dapat diulang-ulang. Tenaga-tenaga yang kita gunakan dalam istilah itu sebagai suatu tenaga atau suatu kekuatan yang mendorong kita supaya bergerak dan berbuat sesuatuKonasi disebut juga dengan kemauan yang merupakan salah satu fungsi hidup kejiwaan manusia, dapat diartikan sebagai aktivitas psikis yang mengandung usaha aktif dan berhubungan dengan pelaksanaan suatu tujuan. Tujuan adalah titik akhir dari gerakan yang menuju pada suatu arah. Adapun tujuan kemauan adalah pelaksanaan suatu tujuan yang mana harus diartikan dalam suatu hubungan. Misalnya seseorang yang mempunyai tujuan untuk menjadi sarjana dengan dasar kemauan, ia belajar dengan tekun walaupun mungkin sambil bekerja.

3. Aspek Psiko-sosiologis  

Pemahaman individu yang masih memiliki hubungan dengan lingkungan sosialnya, membuat ia harus menjaga hubungan baik dengan lingkungannya tersebut. Seseorang yang menjalin hubungan dengan lingkungannya dituntut untuk dapat memiliki kemampuan berinteraksi sosial, komnikasi, menyesuaikan diri dan bekerja sama dengan mereka. Tuntutan secara langsung maupun tidak langsung mempengaruhi agar individu mentaati aturan-aturan sosial. Individu pun jugan berkepentingan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya melalui lingkungan sosial. Dengan demikian terjadi hubungan mutualisme antara individu dengan lingkungan sosialnya. Konsep diri sosial, yaitu persepsi.Pikiran,perasaan, dan evaluasi seseorang terhadap kecenderungan sosialyang ada pada dirinya sendiri, berkaitan dengan kapasitasnya dalam berhubungan dengan dunia di luar dirinya, perasaan mampu dan berharga dalam lingkup interaksi sosialnya. Konsep diri dapat dianggap positifapabila ia merasa sebagai pribadi yang hangat, penuh keramahan, memiliki minat terhadap orang lain, memiliki sikap empati, supel, merasa diperhatikan, memiliki sikap tenggang rasa, peduli akan nasib orang lain, dan aktif dalam berbagai kegiatan sosialdi lingkungannya. Dapat dianggap sebagai konsep diri yang negatifapabila ia merasa tidak berminat dengan keberadaan orang lain, acuh tak acuh, tidak memiliki empati pada orang lain, tidak (kurang) ramah, kurang peduli terhadap perasaan dan nasib orang lain, dan jarang atau bahkan tidak pernah melibatkan diri dalam aktivitas-aktivitas sosial.

4. Aspek Psiko-Spiritual 

Kemampuan dan pengalaman individu yang berhubungan dengan nilai nilai dan ajaran agama. Aspek spiritual disebut juga dengan aspek theologis yang bersifat transcendental. Aspek spiritual meliputi tiga unsur yaitu ketaatan beribadah, kesetiaan berdo’a, dan berpuasa serta kesetiaan menjalankan ajaran agama Diri yang berhubungan dengan aspek spiritual ini bersifat vertikal yang artinya keberadaan individu masih berhubungan erat dengan Tuhan.  

5. Aspek Psikoetika dan Moral 

Suatu kemampuan memahami dan melakukan perbuatan berdasar nilai-nilai etika dan moralitas. Oleh karena itu, proses penghayatan dan pengamatan individu terhadap nilai-nilai moral tersebut menjadi sangat penting, karena akan dapat menopang keberhasilan seseorang dalam melakukan kegiatan penyesuaian diri dengan orang lain. Konsep diri moral etik, berkaitan dengan persepsi,pikiran, perasaan, serta penilaian seseorang terhadap moralitas dirinya terkait dengan relasi personalnya dengan Tuhan, dan segala hal yang bersifat normatif, baik nilai maupun prinsip yang memberi arti dan arah bagi kehidupan seseorang. Konsep diri seseorang dapat dianggap positif apabila ia mampu memandang untuk kemudian mengarahkan dirinya untuk menjadi pribadi yang percaya dan berpegang teguh pada nilai-nilai moral etik, baik yang dikandung oleh agama yang dianutnya, maupun oleh tatanan atau norma sosial tempat di mana dia tinggal. Sebaliknya, konsep diri individu dapat dikategorikan sebagai konsep diri yang negatif bila ia menyimpang dan tidak mengindahkan nilai-nilai moral etika yang berlakubaik nilai-nilai agama maupun tatanan sosialyang seharusnyadia patuhi 

Faktor yang mempengaruhi Konsep Diri 

Hurlock mengungkapkan, kondisi yang mempengaruhi konsep diri remaja meliputi:
a) Usia Kematangan.
Remaja yang matang lebih awal, diperlakukan seperti orang
yang hampir dewasa, mengembangkan konsep diri yang menyenangkan sehingga dapat menyesuaikan diri dengan baik.
b) Penampilan Diri.
Penampilan diri yang berbeda membuat remaja merasa
rendah diri meskipun perbedaan yang menambah daya tarik fisik. Tiap cacat fisik merupakan sumber memalukan yang mengakibatkan perasaan rendah diri. Sebaliknya, daya tarik
f
isik menimbulkan penilaian yang menyenangkan tentang ciri kepribadian dan menambah dukungan sosial.
c) Kepatutan Seks.
Kepatutan seks dalam penampilan diri, minat, dan prilaku
membantu remaja mencapai konsep diri yang baik.
d) Nama dan julukan
Remaja peka dan malu bila teman
teman sekelompok menilai namanya buruk atau bila mereka memberi julukan yang bernada cemooh.
e
) Hubungan Keluarga.
Seorang remaja yang mempunyai hubungan erat dengan seseorang anggota keluarga akan mengidentifikasikan ciri denga orang tersebut dan ingin mengembangkan pola kepribadian yang sama. Apaila tokoh tersebut sesama jenis, maka remaja akan tertolong untuk mengembankan konsep diri yang layak untuk seksnya.
f
) Teman teman Sebaya
Teman
teman sebaya mempengaruhi pola kepribadian remaja dalam dua cara yakni pertama konsep diri remaja merupakan cerminan dan anggapan tentang konsep teman dan dirinya. Kedua berada dalam tekanan untuk mengembangkan ciri-ciri kepribadian diakui oleh kelompok

g)
Kreativitas.
Remaja yang semasa kanak kanak didorong agar kreatif dalam bermain dan dala tugas akdemis, mengembangkan peran individualitas dan identitas yang memberi pengaruh yang baik pada konsep dirinya.h)Cita citaBila remaja mempunyai cita-cita yang tidak realistis, ia akan mengalami kegagalan yang menimbulkan ketidak percayaan dirinya dan timbul perasaan tidak mampu serta reaksi yang bertahan dimana ia menyalahkan orag lain atas kegagalannya. Sebaliknya, remaja yang realistik tentang kemampuannya lebih banyak mengalami keberhsilan daripada kegagalan. Hal ini akan menimbulkan rasa percaya diri dan kepuasan diri yang lebih besar yang memberikan konsep diri yang baik.

h) Cita
cita.
Bila remaja mempunyai cita
-cita yang tidak realistis, ia akan mengalami kegagalan yang menimbulkan ketidak percayaan dirinya dan timbul perasaan tidak mampu serta reaksi yang bertahan dimana ia menyalahkan orag lain atas kegagalannya. Sebaliknya, remaja yang realistik tentang kemampuannya lebih banyak mengalami keberhsilan daripada kegagalan. Hal ini akan menimbulkan rasa percaya diri dan kepuasan diri yang lebih besar yang memberikan konsep diri yang baik

Hubungan Kosep Diri Dengan Komunikasi 

Sebagai makhluk sosial, manusia membutuhkan hubungan sosial dengan lingkungannya. Setiap individu berusaha membina komunikasi yang baik dalam melakukan interaksi sosial di tengah masyarakat, agar dapat tercipta hubungan yang saling menguntungkan kedua belah pihak. Manusia memiliki cara pandangnya sendiri mengenai dirinya, atau yang dikenal dengan konsep diri. Seperti apa dirinya, menyangkut kondisi fisik dan mentalnya, setiap individu tentu mempunyai penilaian tersendiri. Saat individu coba membangun komunikasi dengan suatu komunitas di lingkungannya, ia akan menilai, apakah pergaulan tersebut cocok atau sesuai dengan keinginannya atau prinsip yang ia yakini. Jika hubungan pertemanan itu sesuai dengan prinsip atau keinginannya, maka ia akan menikmati hubungan sosial tersebut dan berusaha membinanya dengan baik. Namun jika yang terjadi sebaliknya, maka ia akan menjauhi atau meninggalkan hubungan sosial tersebut dengan mengurangi bahkan menghentikan komunikasi dengan lingkungan sosialnya. Sebagai contoh, Adi di kanpung halamannya dikenal sebagai seorang pemuda aktivis mesjid yang taat beribadah. Saat ia kuliah di luar kampung halamannya, ia berusaha berbaur dengan pemuda-pemuda kota yang tinggal di sekitar kampusnya. Pada awalnya tidak ada masalah, namun seteleh ia tahu bahwa pemuda-pemuda tersebut gemar mabuk-mabukan, maka ia mulai berpikir, bahwa perilaku yang demikian tidak cocok, bahkan bertentangan dengan jiwa dan prinsip hidupnya. Maka sejak saat itu ia mulai membatasi bahkan menghindarkan diri dari pergaulan dengan para pemuda tersebut. Disinilah hubungan antara konsep diri dengan komunikasi.   

QUIZ :

 Coba anda buat contoh kasus sendiri mengenai hubungan antara kosep diri dengan komunikasi!

(Tuliskan jawaban anda di kolom comment dengan menyebutkan nama & NIM. Silakan gunakan akun gmail atau fb anda untuk comment)